ISLAMICDAYS.ID – Agama Islam kerap kali dipandang negatif atas tingkah laku para pengikutnya yang tidak mencerminkan nilai-nilai keislaman itu sendiri.
Namun, jika dipelajari lebih mendalam, hal-hal negatif yang dituduhkan tentang Islam akan terbantahkan dengan sendirinya.
Sebagaimana diketahui, Islam adalah agama monoteistik yang didasarkan pada ajaran Al-Quran, kitab suci umat Islam, serta Sunnah yang merupakan tindakan, perkataan, dan persetujuan Nabi Muhammad SAW.
Islam mengajarkan keyakinan pada satu Tuhan yang disebut Allah Subhanahu Wa Ta’ala, serta mengandung ajaran tentang praktik spiritual, moral, hukum, dan aturan bagi pengikutnya.
Sementara orang yang mengikuti agama Islam biasanya disebut sebagai muslim. Selain istilah tersebut, ada juga istilah mukmin dan muhsin.
Baca juga: Membangun Keterampilan Mencari Fakta Sebagaimana Perintah Allah SWT dalam Al Quran
Di dalam masyarakat, istilah yang paling umum dan sering terdengar adalah muslim, diikuti oleh mukmin, sedangkan istilah muhsin bagi sebagian orang terdengar masih asing.
Gelar sebagai seorang muslim secara otomatis melekat pada seseorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat, tanpa memandang apakah mereka nantinya benar-benar mematuhi aturan syari’at atau hanya merujuk pada identitas keislaman dalam dokumen resmi.
Sementara itu, pemberian gelar mukmin dan muhsin jauh lebih kompleks dibandingkan dengan gelar muslim. Identifikasi seorang mukmin dapat dilakukan dengan melihat ciri dan sifatnya, sementara seorang muhsin dapat dikenali melalui tabiat atau perilakunya dalam berinteraksi.
Dilansir dari situs Pondok Modern Daarul Abroor, secara etimologi akar kata muslim berasal dari salima-yaslamu yang artinya selamat, sentosa. Kemudian masuk kepada pola aslama, yuslimu, islâman dan isim fa’ilnya muslim yang memiliki arti tunduk, patuh dan beragama Islam.
Dalam terminologi yang berlaku umum, muslim yaitu orang yang memeluk agama Islam dengan dimulai mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tali ikatan antara Allah dan hamba-Nya. Persaksian inilah yang menjadikan seseorang bisa mendapatkan predikat muslim dengan segala konsekuensinya.
Baca juga: Utang Piutang dalam Al Quran, Terjemahan dan Tafsir
Secara filosofis, muslim berkaitan erat dengan ajaran-ajaran agama Islam yang dilakukan dalam bentuk ibadah secara rutin dalam kehidupan sehari-hari, misalnya shalat, puasa, zakat, haji dan ibadah-ibadah lainnya yang telah ditentukan oleh Allah serta risalah yang dibawa Nabi-Nya.
Adapun mukmin bentuk tranlasi dari mu’min yang berasal dari bahasa Arab yang berakar dari kata amuna-ya’munu-amanatan yang memiliki arti kepercayaan, lurus, jujur, setia. Kata mukmin isim fa’il dari kata âman-yu’minu-îmânan yang berarti beriman, percaya.
Di dalam kamus besar bahasa Indonesia mukmin yaitu orang yang beriman kepada Allah Ta’ala. Dalam istilah syara’ mukmin adalah orang yang membenarkan dengan hati, mengakui dengan lisan dan mengamalkan segala aturan-aturan baik dalam bentuk perintah maupun larangan yang datangnya dari Allah dan Rasul-Nya.
Sedangkan kata muhsin dalam bahasa Arab akar katanya berasal dari hasuna-yahsunu-husnan yang memiliki arti baik, bagus. Dan muhsin bentuk fa’il dari kata ahsana-yuhsinu yang memiliki arti membaguskan atau memperbaiki.
Dalam terminologi, kata muhsin adalah orang Islam yang memiliki keteguhan iman yang tinggi sehingga berprilaku baik. Prilaku baik ditujukan kepada Allah dan kepada manusia.
Baca juga: Cara Mandi Wajib yang Diajarkan Rasulullah SAW
KH. Edy Sunari memaknai muhsin sebagai orang yang aktif berbuat baik, bukan hanya baik secara personal tetapi juga memperbaiki keadaan sekitarnya.
Seseorang bisa dikatakan muhsin, harus tertib artinya melewati tahapan sebagai muslim kemudian mukmin dan baru bisa meraih predikat muhsin.
Sepintas terlihat sederhana tahapannya, namun faktanya tidak semua orang bisa mencapai predikat muhsin. Karena orang yang muhsin merupakan orang-orang yang zuhud dan melaksanakan semua aturan-aturan Allah dan Rasul-Nya dengan penuh keimanan.
Semua yang dilakukannya bernilai ibadah kepada Allah Ta’ala, bukan hanya yang wajib dan yang sunnah, bahkan setiap geraknya bernilai pahala.


















